Wisata Emak-Emak Nandan: Antara Healing, Self Reward, Keriwehan dan Hidupnya Kampung
Oleh: Susila Sudiarta (Dukuh Nandan yang lebih sering jadi panitia dadakan)
Kalau ada kegiatan yang paling dinanti-nanti oleh kaum perempuan di Nandan, jawabannya bukan arisan RT, apalagi sosialisasi Caleg atau penyuluhan Keluarga Berencana. Tapi: wisata kelompok emak-emak, entah itu kelompok PKK, senam atau pengajian
Ya, kegiatan yang katanya “refreshing” tapi ujung-ujungnya bikin para suami di rumah jadi single parent sehari penuh ini, memang punya daya magis tersendiri.
Begitu kabar wisata diumumkan,entah ke gunung, pantai atau taman bunga, untuk tahun ini dipilih lokasi ke Sagara View Karang Bolong dan Jatijajar Kebumen, grup WhatsApp PKK dan kelompok senam langsung lebih ramai dari obrolan politik nasional atau berita artis pinkan mamboo yang jualan donat, Dari mulai “Ibu-ibu, yang belum setor uang harap segera ya,” sampai pertanyaan “Bu, kerudungnya biru tua atau biru muda?’ karena urusan warna drescode ini juga sesuatu yang sangat penting bagi kaum emak-emak, pokoknya semua diupayakan demi seragam foto bareng yang matching, karena dalam kamus dunia wisata kaum perempuan, kalau warna baju gak senada, rasanya kayak dosa sosial tingkat menengah
Sebagai kepala dusun, sekaligus pawang rombongan saya kadang merasa jadi manajer rombongan kelompok girlband: harus memastikan semua ibu-ibu naik bus, nggak ada yang ketinggalan, dan memastikan bus nya nyaman, perangkat karaoke berfungsi sempurna. Karena kalau sampai mic nggak nyala, suasana bisa sepi kayak suasana jalan monjali saat lebaran. sebuah “dosa besar” bagi para panitia dadakan ini terutama bagi si petugas pemesan bus, kesalahan itu akan terus dikenang dan tahun depan dipastikan dia digeser posisinya jadi bagian pesan banner ke percetakan, posisi yang tidak banyak resiko wkwkwk
Begitu bus mulai jalan, suasana berubah total. Lagu bergenre dangdut koplo dan lagu nostalgia menggema, ibu-ibu mulai goyang tipis-tipis di kursi tak sedikit pula yang tak kuasa menahan goyangan kaki dan tangannya untuk berdiri menari . Ada yang karena belum sempat sarapan, khusyuk menikmati arem-arem dari snack bok yang disediakan panitia, beberapa lebih memilih bisik-bisik tipis dengan teman di sampingnya, ini yang katanya "semakin lirih bisikannya semakin berisi beritanya", tak sedikit pula yang ribut, “foto di depan bus tadi pakai kamera siapa? kirimi dong bu”. siap edit untuk diupload di story WA atau di FB pro, pokoknya sebelum sampai di lokasi dunia maya harus sudah tahu Nandan lagi jalan-jalan. Hi..hi..hi..
Sesampainya di lokasi wisata, kegiatan berjalan seperti biasa: foto bareng, beli jajanan, lalu foto lagi tapi dengan pose beda sedikit biar bisa upload banyak di media sosial, Ada yang pose di depan bunga, di depan papan nama lokasi, bahkan di depan toilet pun tak luput dari kamera—yang penting caption-nya “Alhamdulillah, refreshing bareng keluarga besar PKK Nandan ????”.
Beberapa yang lain sibuk cari spot foto gratis, sebagian lagi langsung eksplore menu warung dan memesan minuman, mie rebus dan gorengan, tapi gapapa namanya juga healing versi emak-emak; perut kenyang, hati senang, kamera jalan terus dan kebutuhan media sosial terpenuhi sampai 6 bulan ke depan…
Sebagai Dukuh, saya sebenarnya terharu juga. Di balik keriwehan mereka yang nggak habis-habis, melihat betapa uniknya dinamika wisata ini, kegiatan yang diatas kertas terlihat sederhana, tapi di lapangan bisa penuh cerita dan makna besar. Wisata ini bukan cuma soal jalan-jalan. Ini soal besar, momentum kebersamaan, soal perempuan-perempuan tangguh yang tiap hari ngurus rumah, anak, suami, tapi masih punya semangat untuk berkumpul dan bersenang-senang bareng tetangganya.
Saya gembira segala keriwehan ini, tak mengapa capek, tapi batin terpuaskan, kegiatan ini jadi semacam self-reward bagi mereka, saya pikir mereka pantas mendapatkannya.
Saya berharap kegiatan seperti ini terus ada. syukur jika Padukuhan bisa mensubsidi lebih banyak lagi, Biar ibu-ibu tetap bahagia, tetap sehat, dan punya energi positif. Soalnya kalau mereka senang, berpengaruh pula pada suasana kampung, lebih hidup, adem, ayem tentrem
Lagipula, kalau ibu-ibu bahagia, para bapak otomatis ikut senang—meski cuma bisa senyum pahit di rumah sambil nyapu halaman atau mencuci pakaian sambil mikir,”besok istriku minta beli dresscode baru lagi kayaknya..”
Begitulah karena di Nandan, wisata seperti ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini event tahunan paling heboh yang kadang lebih rutin dari jadwal naiknya UMR, tapi juga lebih riuh dari konsernya dangdut jadul Lorenza
Dan buat saya pribadi, saya gembira dengan segala keriwehan ini, tak mengapa capek tapi batin terpuaskan melihat ibu-ibu tertawa lepas, berfoto bersama, bergandengan tangan di pantai atau taman bunga, atau saat melihat mereka kerepotan dengan banyaknya oleh-oleh yang dibeli, itu mungkin jauh lebih indah dari pemandangan di Raja Ampat atau Labuhan Bajo tapi kunikmati sendiri.