Juara Itu Bernama RT Sebelah

 

Kalau ada yang bertanya, apa tanda-tanda bahwa bulan Agustus sudah datang, selain bendera merah putih yang mulai berkibar di tepi jalan. umbul-umbul yang berdiri hampir di setiap gang. Bagi saya, Agustus selalu datang bersama satu pertanyaan yang sama: ada lomba apa tahun ini?

Pertanyaan sederhana itu hampir selalu berhasil mengubah suasana kampung.

Ibu-ibu mendadak memiliki jadwal latihan. Bapak-bapak yang biasanya pulang lalu berdiam di rumah, perlahan kembali berkumpul di gardu atau halaman balai RT. Grup WhatsApp yang biasanya sepi atau hanya berisi pengumuman dari ketua Rt atau kepala dusun mendadak dipenuhi usulan, strategi, bahkan perdebatan kecil tentang jenis lomba yang akan diikuti.

Rasanya, tidak ada perayaan kemerdekaan yang lebih akrab daripada lomba tujuhbelasan.

Jenis perlombaannya pun selalu berkembang. Ada yang bertahan sejak dulu seperti estafet bola, makan kerupuk, atau balap bakiak. Ada pula permainan-permainan baru yang kadang lebih sulit dipahami aturannya daripada dimainkan. Anehnya, semakin sulit pesertanya menyelesaikan permainan, semakin keras pula tawa penontonnya. Di kampung, kegagalan sering kali lebih meriah daripada keberhasilan.

Sejak adanya lembaga RT yang menjadi ruang tempat warga hidup bersama, perlombaan hampir selalu dibuat antar-RT. Di situlah perlahan sesuatu berubah. Yang semula hanya permainan, diam-diam menjelma menjadi perkara harga diri.

Padahal hadiahnya hampir selalu sama. Gelas. Ember. Asbak. Kadang beberapa bungkus deterjen. Benda-benda yang bisa dibeli di toko mana saja. Namun setiap tahun orang tetap berlatih dengan sungguh-sungguh, menyusun strategi, bahkan rela mengorbankan waktu istirahatnya.

Mungkin memang bukan hadiahnya yang sedang diperebutkan.Ada sesuatu yang lebih halus daripada itu.

Barangkali manusia memang membutuhkan sedikit persaingan agar memiliki alasan untuk berkumpul. Tanpa lawan, kita sering lupa betapa menyenangkannya berdiri di pihak yang sama. Rupanya, sebuah kelompok tidak hanya dibentuk oleh kesamaan tujuan, tetapi juga oleh semangat untuk tidak ingin kalah bersama-sama.

Menjelang hari perlombaan, setiap RT berubah menjadi sebuah tim. Ada yang berlatih bakiak dengan penuh kesungguhan. Ada yang berkali-kali mencoba estafet sarung hingga larut malam. Bahkan ada yang diam-diam memperhatikan latihan RT lain, bukan untuk mencari musuh, melainkan untuk memastikan bahwa lawan nanti memang pantas dikalahkan.

Yang paling menarik justru bukan anak-anaknya. Anak-anak itu datang, bermain, tertawa, lalu pulang. Menang atau kalah bukan perkara yang terlalu lama mereka pikirkan. Besok mereka sudah kembali bermain bersama, bahkan dengan teman yang kemarin menjadi lawannya.

Orang dewasalah yang biasanya jauh lebih sibuk. Mereka menyusun strategi, memilih siapa yang paling cocok menjadi peserta, mengatur jadwal latihan, bahkan diam-diam memperhatikan kekuatan RT lain. Ada semangat yang tidak ingin kalah, bukan karena hadiahnya terlalu berharga, melainkan karena setiap orang ingin kelompoknya pulang membawa kebanggaan.

Mungkin memang begitulah usia bekerja. Semakin bertambah dewasa, kita semakin pandai memberi nama pada gengsi. Padahal ketika masih anak-anak, yang dicari dari sebuah permainan hanyalah kesempatan untuk bermain lagi

Saat tiba hari yang ditunggu.

Balai warga berubah menjadi stadion kecil. Penonton berteriak seolah setiap pertandingan adalah final kejuaraan dunia. Sorak kemenangan terdengar sama kerasnya dengan keluhan atas kekalahan. Panitia lomba menjadi orang yang paling mudah disalahkan. Aturan yang kemarin disepakati bersama mendadak terasa kurang adil ketika hasilnya tidak sesuai harapan. Begitulah manusia, kita sering menganggap aturan itu baik selama masih menguntungkan kita.

Yang menarik, hadiah biasanya segera menemukan nasibnya. Gelas masuk lemari. Ember dipakai mencuci. Deterjen habis dalam beberapa hari. Tetapi kekalahan adalah aib yang memiliki umur jauh lebih panjang.

Cerita tentang tim yang terpeleset saat balap bakiak, kalah tipis pada estafet bola, atau gagal dalam lomba voly terpal bisa bertahan bertahun-tahun. Ia berpindah dari satu obrolan ke obrolan lain, muncul kembali setiap Agustus, seolah menjadi arsip yang tidak pernah ditulis tetapi dihafal oleh seluruh warga.

Kalau dipikir-pikir, itu juga aneh. Kita lebih mudah melupakan hadiah daripada mengingat kekalahan. Mungkin karena kemenangan hanya memberi kegembiraan. Sementara kekalahan memberi cerita.

Ada hal lain yang juga terasa ironis. Kita selalu mengajarkan anak-anak agar bermain dengan sportif. Sebelum lomba dimulai, mereka diingatkan untuk menerima kemenangan dengan rendah hati dan menerima kekalahan dengan lapang dada.

Namun menjadi orang dewasa rupanya membuat pelajaran itu tidak selalu mudah dipraktikkan. Semakin banyak yang kita pertaruhkan, semakin sulit kita menerima bahwa orang lain memang bermain lebih baik. Kita tidak lagi sedang memperebutkan hadiah. Yang dipertaruhkan sering kali adalah perasaan, gengsi, bahkan keyakinan bahwa kelompok kitalah yang paling pantas menang.

Mungkin karena itulah anak-anak lebih cepat berdamai setelah pertandingan. Mereka selesai ketika peluit dibunyikan. Orang dewasa sering kali baru benar-benar mulai bertanding setelah perlombaan usai.

Namun di balik semua itu, saya selalu merasa ada hal yang lebih penting daripada siapa yang berdiri di podium.

Lomba-lomba itu memanggil orang keluar dari rumahnya. Orang yang selama ini hanya saling berpapasan akhirnya duduk berdampingan. Anak-anak mengenal teman yang berbeda RT. Ibu-ibu tertawa sampai lupa waktu. Bapak-bapak kembali menemukan alasan untuk berkumpul selain ronda atau rapat.

Agustus rupanya tidak hanya mengibarkan bendera. Ia juga mengibarkan kembali rasa memiliki.

Memang, sesekali muncul perdebatan. Ada yang merasa dicurangi. Ada yang masih membawa cerita kekalahan hingga tahun berikutnya. Tetapi bukankah hampir semua kebersamaan memang selalu menyisakan sedikit gesekan? Batu yang diam tidak pernah bergesekan. Justru yang bergerak bersama akan saling bersentuhan.

Agaknya kampung telah memahami sesuatu yang sering luput dari kita. Persatuan tidak selalu lahir ketika semua orang sepakat. Kadang ia tumbuh ketika ada sesuatu yang diperjuangkan bersama, meskipun hanya sebuah perlombaan yang hadiahnya tidak seberapa.

Beberapa hari kemudian lapangan kembali lengang. Karung-karung dilipat. Tali tambang digulung. Umbul-umbul mulai diturunkan. Gelas hadiah masuk ke dalam lemari, sementara deterjen perlahan habis dipakai mencuci pakaian sehari-hari.

Yang tidak ikut disimpan hanyalah ceritanya.

Cerita tentang siapa yang terlalu bersemangat hingga terjatuh. Siapa yang ngotot meminta pertandingan diulang. Siapa yang bertahun-tahun masih yakin timnya seharusnya menjadi juara. Cerita-cerita itu terus hidup, berpindah dari satu teras ke teras yang lain, dari satu Agustus ke Agustus berikutnya.

Saya kira, kampung memang mempunyai cara sendiri untuk merawat ingatan. Bukan dengan membangun monumen, melainkan dengan memelihara cerita. Cerita-cerita kecil yang mungkin tidak pernah dicatat dalam buku sejarah, tetapi selalu mendapat tempat di ingatan warganya.

Itulah sebabnya yang membuat setiap Agustus selalu terasa akrab. Bukan semata-mata karena benderanya, bukan pula karena perlombaannya, melainkan karena setiap orang pulang membawa kisah yang akan kembali diceritakan ketika bulan kemerdekaan datang lagi.